Friday, October 7Our guide, your story - Yogyakarta
Shadow

Pameran Lukisan Lintas Generasi dari Hyatt Regency Yogyakarta

Membuka tahun 2022, Hyatt Regency Yogyakarta menghandirkan pameran seni rupa. Kali ini Hyatt Regency Yogyakarta menggandeng Yayasan Dharmatika Budaya Nusantara dan Royal House Cultural Activities, sebuah wadah yang rutin mengadakan kegiatan seni budaya di Yogyakarta. Pameran ini bertajuk “The Rise of 4 Painters from 4 Generations” dan diresmikan oleh GBPH Yudhaningrat atau akrab disapa Gusti Yudho. Pameran yang di ikuti oleh 4 seniman ternama Indonesia yaitu Kartika Affandi, Artha Pararta Dharma, Nasirun, dan Jumaldi ALfi. 

Kartika Affandi, seniman berusia 87 tahun yang sejak kecil belajar melukis pada ayahnya, sang maestro Indonesia, Affandi. Lukisan yang ditampilkan dalam pameran ini tertuang seluruh perasaan dan jiwa dari pelukis kedalam setiap karyanya. Narasi lukisannya bila dilihat dari dekat larut dengan kedalaman yang kuat, kesan abstrak dalam goresan cat minyak yang penuh semangat. 

Karya Kartika Affandi yang sangat mencuri perhatian berada pada lobby Hyatt Regency Yogyakarta yaitu Beringin di Campuhan Bali. Setiap goresan, corak, serta warna yang tertuang dalam lukisan seakan membawa kita kedalam suasana yang tergambar. Sebuah beringin besar yang melebarkan ranting dan daunnya memberi kesejukan bagi orang yang berada dalam bayangannya. Lukisan ini menggambarkan Bukit Campuhan yang lebih dikenal dengan Bukit Cinta Campuhan yang menyuguhkan perbukitan hijau dipenuhi pepohonan tropis juga area persawahan disekelilingnya. Bukit Campuhan adalah salah satu dari tempat wisata terkenal di Bali yang sudah mendunia. 

Berikutnya karya Artha Pararta Dharma, lukisan dengan gaya figurative dan ekspresionis, Artha mengangkat kehidupan dan budaya Jawa serta memasukan ornament-ornamen di dalamnya. Ia mulai belajar melukis dari usia 13 tahun dibawah asuhan pamannya yang juga seorang seniman terkenal, yakni Bagong Kusudiharjo. Warna-warna yang cerah sera goresan yang ekspresif menjadi daya magnet tinggi di setiap karyanya. Seperti karyanya yang bertajuk Gatotkoco Gugur, Lahirnya Batara Kala, dan masih banyak lagi. 

Adapula Nasirun, seorang maestro seni lukis yang juga kolektor seni yang kerap menggunakan elemen kebudayaan Jawa dalam setiap karyanya yang bergaya kontemporer ekspresionis. Pria kelahiran Cilacap ini lahir dari keluarga pekerja dan petani. Meski tidak memiliki latar belakang keluarga seniman, kecintaannya pada seni sejak kecil membuat ia bertekad menjadi seniman yang hebat hingga menempuh pendidikan di Institut Seni Yogyakarta. Karyanya yang ditampilkan pada pameran kali ini adalah Diponegoro dan Istri Melihat Merapi, Linggo Yoni, Ungu Menantang Ide Buruk, juga Harmoni. 

Tidak Ketinggalan karya Jumaldi Alfi, seperti Postcard from The Past #4 dan Postcard from The Past #6 turut dipajang di pameran ini. Jumaldi Alfi adalah seorang perupa kontemporer yang telah memamerkan karyanya di berbagai kota di dalam maupun luar negeri. Jumaldi Alfi masuk dalam daftar 500 pelukis terlaris di dunia berdasarkan Top 500 Artprice 2008/2009 yang disusun oleh sebuah lembaga analisis perkembangan pasar seni rupa dunia, Artprice, yang berbasis di Paris, Prancis.