Tuesday, August 3Our guide, your story - Yogyakarta
Shadow

GMY Cultural Series, Pertunjukan Seni Virtual bersama Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro dan Penari Termuda Kraton Yogyakarta

Siapa tak mengenal Yogyakarta? Kota yang asri dan Penuh dengan kebudayaan di setiap sudut kota. Masyarakatnya yang selalu tersenyum, tak peduli pada warga lokal maupun pendatang membuat hangat di hati. Tarian serta wayang menjadi seni yang masih dilestarikan di kota ini, baik orang tua hingga anak kecil pun tidak melupakan budaya mereka. Walaupun saat ini kita belum bisa bebas menghirup udara luar, namun kebudayaan harus tetap dilestarikan.

Grand Mercure Yogyakarta Adisucipto sebagai hotel bintang lima dibawah naungan Acoor Hotels mengadakan GMY Cultural Series. Sebuah pertunjukan seni secara virtual dari Panggung Terbuka Piazza yang ditayangkan secara langsung melalui Instagram @grandmercureyogyakarta. Acara ini digelar sebagai upaya untuk terus memperkenalkan budaya lokal sekaligus merespon terjadinya pandemi.

Dalam acara ini, Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro sebagai pengisi acara menampilkan Suluk Singgah-Singgah Sunan Kalijaga. Suluk Singgah-singgah ini dibuat oleh Sunan kalijaga pada saat terjadinya “pagebluk” atau wabah yang seringkali memakan korban. Ketika wabah terjadi, masyarakat Jawa mengupayakan kesembuhan dengan salah satunya melantunkan Mantra Tolak Bala. Singgah-Singgah berasal dari kata Sesinggah yang bermakna memindah, membersihkan, juga menyingkirkan. Oleh karena itu Suluk Singgah-Singgah ini di gunakan untuk memindahkan, membersihkan, juga menyingkirkan hal-hal buruk.

Selain Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro, ada pula Mohan Kalandara. Mohan seorang penari termuda sepanjang sejarah Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Mohan menari bersama kakaknya, Jivan Aruna, menampilkan Beksan Nir Corona. Beksan Nir Corona ini diciptakan pada saat pandemi Covid-19 yang bertepatan dengan Mangayubagya 32 Tahun Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tarian ini bertujuan untuk mengajarkan masyarakat bagaimana cara hidup sehat dengan mencuci tangan. Dimasa pandemic ini bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa, namun tetap harus berkarya dan melesarikan budaya sendiri.